Beberapa waktu kemarin, saya dan 16 rekan satu komunitas sepeda, berkesempatan untuk menyusuri alam pegunungan dari daerah Nongkojajar Malang menuju ke area Gunung Bromo.

Dalam bayangan saya, perjalanan akan sangat menarik karena lokasi ini belum pernah saya kunjungi sebelumnya dengan mengenarai sepeda. Menuru kabar dari penduduk sekitar, jarak antara titik start dengan lautan pasir, hanya sekitar 5-7 km dengan kontur medan yang seimbang antara tanjakan dan turunan. Dalam alam pikiran saya, saya membayangkan saya bisa mengayuh sepeda dengan santai dan menikmat alam di sana, dan ini embuat saya makin semangat.

Setelah menurunkan sepeda di titik start, perjalananpun dimulai. Diawal langkah ini, kami ditantang oleh tanjakan yang membuat jantung berdegub kencang dan nafas tersenggal-senggal. Udara dingin menembus baju saya yang sudah berlapis tiga. Sayapun tertinggal dengan rekan-rekan yang lain. Hanya ada saya dan seorang rekan saya, yang nasibnya sama dengan saya.

“Haduh, koq gini ya”, ujar saya dalam hati. Antara persepsi dengan realita terdapat perbedaan yang mencolok.

Semangat kami terkatrol tatkala ada beberapa warga yang kami ajak berbincang-bincang, mengatakan bahwa jaraknya tidak jauh. Tanjakannya juga tidak seperti yang telah kami lalui.. “ Wah, syukurlah kalo begitu”, ujar saya, dan setelah berpamitan kami melanjutkan perjalanan.

Turunanpun menyapa kami, dan kami menyambutnya dengan gembira. Tapi tak seberapa lama, kamipun tercengang karena didepan kami ada tanjakan panjang yang lebih hebat dari yang pertama. Kamipun memilih menuntun sepeda kami ke atas. Itupun kaki terasa berat dan nafas ngos-ngosan. Ternyata definisi beratnya tantangan antara warga sekitar yang sering menjalani jalur tersebut berbeda dengan definisi saya.

Sesampainya diatas, teman-teman kami yang lain sudah menunggu kami. Semangatpun berangsur-angsur pulih seiring pulihnya nafas saya.Kami berfoto sejenak karena pemandangan dibelakang kami sudah sangat indah. Perjalananpun dilanjutkan lagi.

Mulai titik ini, saya dihajar lagi oleh tanjakan dan jalan yang terjal. Fisik semakin drop dan semangatpun semakin merosot. Rekan saya yang sejak awal senasib dengan saya juga mengalami hal yang sama. Untungnya ada seorang rekan saya yang lain ikut mendampingi kami berdua. Jarak kami bertiga dengan rekan yang lain semakin jauh, sampai akhirnya hanya tinggal kami bertigas saja. Sambil menuntun sepeda saya mulai menggerutu tentang kondisi kami, dan itu tidak membuat kondisi saya membaik. Tujuan akhir kami terasa sangatlah jauh. Hati saya dalam persimpangan antara melanjutkan perjalanan atau kembali ke titik awal.

Namun, kemudian saya tersadar. Jika saya terus mencari kambing hitam dan menggerutu, saya tak akan mendapat keuntungan dari perjalanan kali ini. Jadi ini yang saya lakukan :

Saya mulai mengamati alam sekitar. Melihat Edelweis yang tumbuh dan mekar, mendengarkan kicauan burung, dan sejenak saya mendengarkan alam ketika saya beristirahat.  Alam terasa begitu indah, dan kekesalan serta keletihan sayapun berganti menjadi ucapan syukur.

Karena saya seorang “Ego Stateer”, maka sayapun mengakses kembali pengalaman bersemangat saya dan kemudian mengajak diri saya bercakap-cakap. Memberikan motivasi kepada bagian dari pribadi saya yang letih lelah. “ Ayo, kamu bisa, kamu layak sampai tujuan, kamu hebat, kamu mampu !!”, ujar saya pada diri saya sendiri

Saya dan rekan-rekan saya  mulai bercakap-cakap tentang kegemaran kami bertiga, pekerjaan kami, dan pengalam kami. Ajaibnya, state kami yg lelah berganti menjadi state lain yang lebih memacu kami sampai ke tujuan.

Perlahan-lahan apa yang kami tuju makin tampak. Kami melihat kebawah, hamparan pemandangan menakjubkan. Disana kawan-kawan kami yang lain terlihat sebagai titik-titik  kecil yang bergerak-gerak. Senangnya kami bisa sampai di tempat itu.

Sampai disana, adalah sebuah kemenangan bagi kami bertiga.

Pemenang bukanlah yang tercepat sampai di finish, tetapi siapa yang setia melalui jalannya sampai garis finish

Berikut adalah pelajaran yang saya dapatkan dalam perjalanan lintas alam kali ini :

Dengan mengatur selftalk yang positif dalam diri, semua dilalui

Ketika GOAL sudah jelas, maka motivasi kita akan semakin memuncak. Tetapi bila GOAL yang dituju belum nampak, buatlah GOAL-GOAL kecil yang menuntun kita ke GOAL utama

Alam sungguh indah, nikmati saja perjalannannya, walaupun apapun kondisi kita

Dari pada berhenti, lebih baik berjalan walau hanya selangkah kecil, artinya : Ketika kita berhenti melangkah, kita akan semakin lama menuju goal kita. Sebaliknya bila kita berkendala, tetap lakukan action walau hanya action kecil

“Tanjakan yang kiita lalui, akan menjadi turunan yg nikmat, ketika kita setia mendaki jalan itu, walau berat “

Advertisements